Friday, August 19, 2005

Ucapan yang biasa digunakan

PERIHAL UCAPAN SHADAQALLAHUL ‘AZHIM


M engucapkan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al-Qur’an merupakan perkara bid’ah yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al-Qur’an dengan kata “hasbuka” (cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca “Shadaqallahul ‘Azhim”. Dalam hadist Al-Bukhari disebutkan :
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi telah berkata kepadaku: “Bacalah kepadaku (Al-Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al-Qur’an) kepadamu, padahal diturunkan kepadamu? Maka Beliau menjawab: “Ya”. Lalu aku membacakan surat An Nissa sampai pada ayat 41, Beliau berkata: “Cukuplah sekarang”. Lalu aku melihat Beliau, ternyata kedua mata Beliau meneteskan air mata.

Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan: “Termasuk perbuatan bid’ah, yaitu mayoritas dari berhenti dan memutus bacaannya dengan mengatakan “Shadaqallahul ‘Azhim”, padahal Nabi menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan “Hasbuka” (cukuplah). Inilah yang dikenal dari para salaf, dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau berhenti qari’ mereka dengan mengucapkan “Shadaqallahul ‘Azhim” sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang.
Kemudian beliau menukil pernyataan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi Ahmad dalam kitabnya, Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lailah, halaman 164 yang berbunyi :
Keterangan tentang ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” ketika selesai membaca Al-Qur’an. Memang, kata “Shadaqallah”disampaikan Allah dalam Al-Qur’an :
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS Al Imran : 95).

Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya, kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasullullah mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul ‘Azhim”.
Di sana ada juga orang yang mengganggap baik hal-hal yang lain, namun kita memiliki Rasulullah sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga, kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat –walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apapun-. Kami telah merujuk kepada Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu Katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satupun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah pernah mengakhiri bacaannya dengan “Shadaqallahul ‘Azhim”.
Bila dikatakan “cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami, bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan, sebagaimana sabda Rasulullah :
“Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku ini sesuatu yang bukan dariku, maka ia tertolak” (HR Muslim).

Sehingga apapun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat, dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah. Wallahu a’lam.